frontroll Homepage

Internasional
Malaysia dan Konflik Internasional

Ditulis oleh : Redaksi | Selasa, 05 Maret 2013 - 10:51:25 | Dibaca: 1088 kali


FOTO : ISTIMEWA [FRONTROLL.COM]

Baku tembak antara kelompok bersenjata Kesultanan Sulu dan aparat keamanan Malaysia hanya­lah salah satu puncak dari kegelisahan yang terpendam setiap kali satu kelompok berbicara mengenai kedaulatan. 

Konflik Sabah berawal saat sekelompok orang, sekitar 400 orang, menyusup ke Lahad Datu, Sabah. Mereka menyebut diri Pasukan Keamanan Kesultanan Sulu dan Borneo Utara serta mengklaim hak atas wilayah Sabah, yang dulu termasuk Borneo Utara.

Sejarah mencatat, pada tahun 1658, Sultan Brunei menghadiahkan wilayah Sabah ke Sultan Sulu atas bantuan yang diberikan dalam melawan pemberontakan di Brunei.

Pada masa penjajahan Inggris, tepatnya pada tahun 1878, wilayah Sabah disewa oleh British North Borneo Company.Perusahaan itu harus membayar uang pajak senilai 1.600 dolar AS per tahun. Dalam kontrak disebutkan bahwa uang sewa akan terus dibayarkan selama Sabah masih dalam kekuasaan perusahaan tersebut.

Saat Inggris pergi dan Sabah kemudian menjadi bagian dari wilayah negara Malaysia, Pemerintah Malaysia masih meneruskan pembayaran itu. Hingga kini, Malaysia masih membayar sekitar 5.000 ringgit Malaysia (Rp 15,6 juta) per tahun kepada pewaris Kesultanan Sulu. Persoalan awalnya muncul ketika Inggris memerdekakan Malaysia. Sejak tahun 1963, saat Sabah dinyatakan masuk wilayah Malaysia, secara sepihak Inggris menginterpretasikan isi kontrak secara berbeda dari sebelumnya.

Pihak Inggris menganggap uang yang dibayarkan ke Kesultanan Sulu sebagai uang untuk mengalihkan kepemilikan Sabah walau proses pembayarannya masih terus berlangsung dan diwariskan ke Pemerintah Malaysia sampai sekarang. Sementara pihak Kesultanan Sulu menganggap uang pajak tersebut tetap sekadar uang sewa wilayah mereka di Sabah. Status kepemilikan, menurut mereka, tak berubah.

Konflik Malaysia dan negara tetangganya

Tidak hanya didaerah Borneo Utara saja konflik internasional yang dihadapi Malaysia, tapi juga menyangkut beberapa klaim atas daerah yang sudah diduduki oleh Singapura. Pulau Batu Puteh dikalim oleh Malaysia dalam petanya tahun 1979, tapi Singapura melakukan penolakan atas peta tersebut dan membangun sebuah mercusuar dipulau seluas 0,8 hektar tersebut. 

Dan konflik itu meluas hingga konflik masyarakat dan militer walaupun tidak sampai meletus bentrokan bersenjata antara kedua belah pihak. Hingga akhirnya pada sidang dimahkamah internasional pada 23 mei 2008, Singapuralah yang mendapatkan klaim atas satu pulau strategis dijalur pelayaran internasional tersebut. Hal ini membuat Kesultanan Johor merana dan marah, karena merasa pulau-pulau tersebut adalah milik Kesultanan Johor.

Malaysia juga menghadapi konflik dengan Indonesia, Konflik  perbatasan laut ZEE di Ambalat (Ambang Batas Laut) dilaut Sulawesi yang sampai sekarang belum terselesaikan. Konflik tersebut juga tidak hanya dilaut tetapi juga di perbatasan darat dipulau sebatik dan Kalimantan. 

Malaysia banyak mengklaim perbatasan dengan Indonesia dengan sepihak, seperti pengeluaran peta tahun 1979 yang membingungkan Indonesia, Filipina, Brunei dan Singapura atas keseriusan Malaysia dalam menentukan daerah kekuasaannya. Konflik antara Indonesia dan Malaysia juga meluas sampai klaim Malaysia atas kebudayaan-kebudayaan Indonesia.

Malaysia juga menghadapi konflik dengan Brunei, Filipina, Vietnam, Taiwan dan RRC atas klaim kepulauan Spratly. Konflik-konflik ini sehingga membuat militer Malaysia banyak membelanjakan uang negaranya untuk memoderenisasi peralatan perangnya. Konflik ini menguras dana yang begitu besar uang negara, seperti perluasan-perluasan beberapa pulau Spratly untuk dijadikan markas militer. 

Konflik ini juga membuat Malaysia membeli Jet-jet tempur, Tank, Kapal selam, kapal perang dan persenjataan lainnya untuk meninggikan kedudukan tawar-menawar Malaysia terhadap klaim-klaim yang menimbulkan konflik tersebut.

Beragam konflik ini jika dicermati adalah warisan  kolonialisme Barat di Asia Tenggara, terutama Sulu dan Filipina Selatan yang membekaskan luka sangat dalam, dimana konflik-konflik lokal timbul tenggelam. (berbagai sumber)
KOMENTAR ANDA
KIRIM KOMENTAR

Anda harus login ke Facebook

  

ADS INFO

In Association With


Untuk Pemasangan Iklan Koran Frontroll dan Frontroll.com hubungi redaksi@frontroll.com atau hub:021)319 24271, 319 2473