Find and Follow Us

| : WIB
[Foto : Istimewa/Frontroll]

FRONTROLL.COM,

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan Denmark akan membangun pembangkit listrik bertenaga angin di Sulawesi dalam rangka meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara.

Menurut dia, proyek pembangkit listrik tenaga angin itu diklaim akan menjadi yang pertama jika berhasil dikembangkan di Tanah Air.

"Memang masih dalam tahap sangat awal tapi kalau ini terjadi, ini proyek listrik tenaga angin pertama di Indonesia dan mungkin kita bisa coba di tempat-tempat lain," katanya seusai pertemuan dengan Duta Besar Denmark untuk Indonesia Casper Klynge di Kantor Kemenko Kemaritiman Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kendati tidak merinci rencana pembangunan pembangkit listrik bertenaga angin itu, Rizal mendukung niat negara yang merupakan salah satu pendiri Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) itu.

Menurut dia, hal itu menarik lantaran dari sekian banyak energi alternatif yang dimiliki Indonesia seperti sinar matahari atau biodiesel, Denmark justru memulainya dengan angin.

"Di Sulawesi kebetulan anginnya bagus, kuat," katanya.

Kemenko Kemaritiman sendiri, lanjut Rizal, saat ini tengah menggiatkan Program Proyek Percepatan dan Diversifikasi Listrik (PPD-Listrik) di mana pihaknya akan meningkatkan kapasitas pembangkit dan mendorong diversifikasi energi alternatif untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia.

Ada empat langkah yang ditempuh untuk PPD-Listrik itu yakni percepatan proses, pengadaan transmisi, diversifikasi alternatif energi, dan desentralisasi pembangkit.

Lebih lanjut, dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat untuk terus meningkatkan hubungan kerja sama di bidang maritim, energi dan transportasi.

Khusus di bidang transportasi, Dubes Klynge menuturkan sejumlah perusahaan kargo asal negara Eropa Utara itu telah beroperasi di Indonesia.

"Kami ingin agar perusahaan-perusahaan ini bisa meningkatkan konektivitas di Indonesia, tidak hanya membawa orang atau barang tapi juga ikan ke pasar internasional, misalnya," katanya.

Konektivitas tersebut, lanjut Dubes Klynge, diharapkan mampu membuat hasil perikanan Indonesia bisa mengakses tempat penyimpanan dingin (cold storage dan cold containers) sehingga bisa lebih awet dan memperoleh pasar yang lebih luas.

"Banyak hal yang kami bicarakan dan menurut kami bisa jadi kerja sama yang menguntungkan kedua pihak," katanya.

Tag :

0 Komentar