"Polisi adalah Masyarakat, Masyarakat adalah Polisi" | FRONTROLL.COM
FRONTROLL.COM
Kamis | 07 Januari 2016 | 00:00 WIB

WAWANCARA

"Polisi adalah Masyarakat, Masyarakat adalah Polisi"

Redaksi - FRONTROLL.COM
FRONTROLL.COM,-

Tahun 1998 bisa dibilang menjadi salah satu tonggak terpenting dalam karier panjang Komjen Pol (Purn) Drs. Togar M Sianipar, Msi di kepolisian. Pasalnya,  ketika itu ia memangku jabatan strategis sebagai Kepala Dinas Penerangan.  Dipercaya sebagai juru bicara utama Polri, lulusan Akpol tahun 1971 ini terkenal terbuka.

 

Sikapnya yang terbuka dengan insan pers membuat hubungan pensiunan polisi tahun 2004 ini semakin dekat dan harmonis. Tak pelak, hubungan harmonis itu menjadikan citra polisi terangkat. Salah satunya disebabkan mudahnya wartawan memperoleh konfromasi berita yang akan ditulis. Bahkan, bisa dikatakan nyaris tiada hari tanpa berita Polisi Republik Indonesia memenuhi halaman media cetak dan televisi.

 

Memang sebagai Jenderal Bhayangkara citra Polri menjadi salah satu perhatiannya. Bahkan sampai saat ini ketika Ia sudah pensiun dari korps coklat ini, kecintaan dan kepeduliannya kepada Polri tergambar dari kalimat yang meluncur tegas ketika berdialog dengan redaksi  Tabloid Frontroll di jakarta awal Oktober 2015 lalu.

 

Harapan dan mimpinya tentang wajah polisi yang bersahabat tersirat jelas dalam setiap kalimat yang meluncur ketika mantan Kepala BNN ini membicarakan tentang polisi. Berikut petikan wawancara yang berhasil dirangkum redaksi :

 

FR : Sebagai pensiunan Polri, bagaimana Anda melihat wajah polisi saat ini?

Togar : .... haaaa (narik nafas panjang -red).  Saya harus menarik nafas panjang  jika berbicara tentang polisi. Begini satu keyakinan yang mesti ditanamkan kepada setiap angggota Polri adalah polisi dan masyarakat itu tidak bisa dipisahkan. Makanya ada agium mengatakan begini, public is the police, police is the public (masyarakat adalah polisi, polisi adalah masyarakat). Itu agium yang tidak bisa dibantah, kalau kita sudah menyakini hal ini, orientasi polisi harus berdasar kepada kepentingan masyarakat bukan kepentingan polisi.

 

Makanya selalu saya katakan, polisi dalam menyusun program kerja bukan dalam rangka menjayakan polisi, tetapi membuat program kerja bagaimana lebih prima melayani masyarakat. Nah, kalau kita sudah sadar bahwa polisi adalah masyarakat, maka semua pemikiran yang berkembang di kepalanya Pimpinan Polri, disemua level kepemimpinan harus dalam rangka masyarakat bukan dalam rangka polisi.

 

Bahwa polisi harus dibenahi itu betul, tetapi tetap tujuannya utk masyarakat. Dalam pembukaan UUD 45 alinea ke 4, jelas tersebut bahwa, untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia. Jadi pemikiran tentang apapun harus untuk masyarakat.

 

Kebehasilan polisi itu harus diukur seberapa jauh polisi mampu mendekatkan diri pada masyarakat, dan menggerakan masyarakat agar mau menciptakan keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat itu sendiri.

 

Tetapi apakah mungkin polisi mampu menggerakan masyarakat kalau tidak dekat? Omong kosongkan. Jadi polisi asiomatis, harus dekat dengan masyarakat agar mampu menggerakan untuk melaksanan tugas-tugas kepolisian.  Jadi masyarakat itu juga pengemban fungsi kepolisian, karena terciptanya keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat adalah karena masyarakatnya itu sendiri bukan karena polisi.

 

FR : Saat ini sudahkah polisi menjadi bagian dari masyarakat?

Togar : Ada 3 tahap strategi yang dilaksanakan Polri. Tahap pertama adalah membangun kepercayaan atau trust building, tahap kedua membangun network and pratnership building, tahap ketiga strike of excelent atau menampilkan pelayanan prima.

 

Yang pertama membangun kepercayaan, jujur. Tahap pertama ini yang masih lemah. Tapi artinya begini, Pimpinan Polri memang selalu berusaha membuat bagaimana polri itu menjadi lebih baik, tetapi memang Polri itu tidak berada di ruang hampa, di berada di lingkungan yg penuh dengan berbagai kepengtingan, terutama kepentingan politik dan ekonomi. Yang ada ditekad dan komitmen Kapolri harus sama sampai ke level terbawah. Tapi kan namanya juga manusia, memang itu tidak bisa kita hindari.

 

Jadi persoalannya memang bukan terletak pada skil dan knowledge, tetapi jangan lupa attitude, prilaku yg baik. Itu menjadi bagian penting dalam konteks persoalan ini, prilaku yang baik, harus ditanamkan pada semua.  Kita punya etika kepolisian atau yg disebut Tri Barata, etika ini yang harus ditanamkan dari waktu ke waktu.

 

FR : Dengan masyarakat harus welcome?

Togar : Benar. Kapolda, kapolres, kapolsek, harus turun ke lapangan, turun ke rakyat. Jangan feodalistik, jangan hanya duduk di belakang meja. Berkaitan dengan itu saya mengusulkan, jangan ada pejabat-pejabat Polri yang HP-nya dipegang ajudan. Rakyat setiap saat harus bisa berhubungan langsung dengan para pejabat Polri. Sehingga masyarakat bisa langsung menyampaikan laporannya, keluhan dan informasi.

 

FR : Terakhir Anda memangku jabatan sebagai kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) , bagaimana Anda melihat kinerja BNN?

Togar : Saya mengacungkan jempol kepada BNN karena berhasil mengungkap kasus-kasus besar narkotika tp saya mau katakan yang masuk jumlahnyajauh lebih besar. Dalam survey BNN katanya pencandu narkoba 4 juta orang, saya katakan angka rilnya 10 kali lebih besar, kenapa karena pemakaian narkotika bukan hanya di kota-kota besar di desa juga banyak.

 

FR : Setujukah  Anda tentang kondisi darurat narkoba?

Togar : Setuju, tapi sebetulnya itu bukan lagu baru. Sudah lama itu, sejak saya menjabat kepala BNN saya sudah suarakan, tapi tanggapannya hanya kalimat memprihatinkan-memprihatinkan. Tetapi memang derasnya arus masuk narkoba ini seuatu keniscayaan, letak geografis kita yang sangat startegis ini disatu sisi menjadi kekuatan, tetapi di sisi lain sekaligus menjadi ruang bagi pengedar narkotika.

 

Apalagi sekarang jalur dewa pengedar narkotika adalah  jalur laut, sebagian besar wilayah kita adalah perairan.  Selain itu juga jalur udara, saat ini banyak bandar udara kita yang menjadi bandara internasional. Artinya di satu sisi menjadi kemajuan, kita semakian terbuka dengan interaksi bangsa lain, itu konsekuensi dari globaslisasi yg manyangkut 3T, Tourism, telkomunication dan transportastion. Tapi sekaligus menjadi kerawanan kalau kita tidak mampu menjaga pintu-pintu masuk udara dan laut kita sekaligus. Dan ini yg saat ini terjadi.  Jadi kalau dikatakan Indonesia darurat narkoba, saya katakan kita super darurat.

 

FR : Dalam kondisi seperti ini, apa yang harus dilakukan?

Togar : Penguatan Badan Narkotika Nasional dan Badan Narkotka Nasional Propinsi dan BNN Kabupaten kota bahkan kalau bisa dibentuklah BNN kecamatan. Kenapa? Karena dari fakta menunjukan narkotika itu sudah merambah sampai desa.

 

Nah, ada ungkapan dari Bapak SBY ketika beliau jadi Presiden, kita harus nyatakan perang terhadap narkotika, beliau istilahkan dengan kalimat nation in arms. Maksudnya seluruh komponen bangsa ini harus mengangkat senjata dalam memerangi narkoba, tapi kan tidak mudah.

 

FR : Belakangan beredar kabar BNN berniat melibatkan TNI dalam pemberantasan narkoba, pandangan Anda?

Togar : Dalam kaitannya dengan aline ke 4 UUD 45,  melindungi segenap bangsa. Yah, itu boleh-boleh saja. Tapi tentu TNI bukan penegak hukum, kalau dalam batas tertentu silakan saja.

 

FR : Bagaimana sistem hukum kita terhadap pemberantasan narkotika?

Togar : Saya katakan sangat lemah, dilini terdepan masyarakatnya kurang mengawasi, kepolisian banyak kekurangan sana sini, jaksa dan hakim juga sama.  Makanya Saya setuju dengan hukuman mati.Memang belum pernah dilakukan penelitian tentang berapa besar dampak langsung terhadap hukuman mati, sehingga belum ada jawaban pasti dan akurat.

 

Tetapi paling tidak, pertama kita mengukuhkan diri sebagai negara berdaulat dibidang hukum. Negara kita negara hukum apapun yang tertulis di dalam Undang-undang  (UU) harus dilaksanakan. Itu namanya negara hukum.Kalau dalam UU kita ada hukuman mati, ya harus ditegakan. Jadi jangan kita berdiskusi lagi. Kalau tidak ingin ada hukuman mati,  UU-nya dihapus saja.

 

Kedua, kita harus ada istilah memperbandingkan. Orang selalu mengatakan hak hidup merupakan hak azasi manusia, sehingga tidak ada orang yang berhak mencabut nyawa orang. Tetapi coba bandingkan dengan keluarga korban narkotika yg anaknya mati over dosis. Apakah kita harus lupakan hak azasi mereka yg sudah dihancurkan oleh perbutaan pengedar narkotika ini.

 

FR : Terakhir, Apa harapan Anda terhadap Polisi?

Togar : Saya berharap kedepannya polisi menampilkan wajah yang protagonis, humanis, dan bersahabat. Tidak perlu lagi menampilkan wajah yang tidak ramah, polisi tidak perlu ditakuti, tapi tampillah menjadi polisi yang bersahabat. Pun ketika harus menegakan hukum, tampillah menjadi polisi yang tegas namun bersahabat.  (*)

BERITA LAINNYA
  • Skytrain Solusi Macet Bandara Soetta

    MEGAPOLITAN | 26 September 2017 17:03 WIBKini para pelancong akan kian dimudahkan dengan keberadaan Skytrain yang menghubungkan ketiga terminal di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Layanan transportasi skytrain pertama di Indonesia
  • Lawan Dortmund, Toni Kroos Masuk Skuad Inti Real Madrid

    OLAHRAGA | 26 September 2017 16:54 WIBGelanda asal Jerman, Toni Kroos telah kembali masuk skuad inti Real Madrid setelah sembuh dari cedera rusuk. Kross mengalami cedera saat timnya menang melawan Alaves dengan skor 2-1 dan saat ini
  • Kisah Anak Tukang Las yang Sekolah di China

    SOSOK / TOKOH | 26 September 2017 16:10 WIBRama Aldi Sanjaya merupakan seorang mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya yang mengikuti program student mobility di Nantong Vocational University. Rama menceritakan seputar ayahnya