Dr Mardjono Tjahjadi, SpBS: Rasio Dokter Bedah 1 untuk 1 Juta Penduduk | FRONTROLL.COM
FRONTROLL.COM
Rabu | 10 Februari 2016 | 00:00 WIB

WAWANCARA

Dr Mardjono Tjahjadi, SpBS: Rasio Dokter Bedah 1 untuk 1 Juta Penduduk

Redaksi - FRONTROLL.COM
Dr Mardjono Tjahjadi, SpBS: Rasio Dokter Bedah 1 untuk 1 Juta Penduduk
FRONTROLL.COM,-

Sampai saat ini, Indonesia masih sangat kekurangan dokter ahli bedah syaraf. Dengan jumlah penduduk 250 juta jiwa, dokter ahli bedah yang dimiliki baru sekitar 280-an orang atau rasionya sekitar 1 : 1 juta. Artinya, secara kasar satu orang dokter bedah syaraf harus melayani sekitar 1 juta penduduk.

Dari jumlah yang sedikit itu, Dr Mardjono Tjahjadi, SpBS salah satunya. Spesialisasinya pada ilmu bedah syaraf, khususnya bedah penyakit pembuluh darah otak, tentu saja membuat Dr Mardjono Tjahjadi menjadi salah satu orang dengan profesi yang langka di negeri ini.

Sebagai seseorang yang memiliki profesi langka, Dr Mardjono sadar betul bahwa ilmu yang dimiliki sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Makanya, dokter yang kesehariannya praktek di RS Mitra Kemayoran ini berusaha untuk selalu memberikan yang terbaik.

Di usianya yang relatif muda ia terus-menerus memperdalam ilmunya secara khusus dalam menangani penyakit syaraf otak agar dapat memberikan pelayanan maksimal pada masyarakat.  

Tercatat, dokter Mardjono Tjahjadi SpBS merupakan lulusan fakultas kedokteran Universitas Atmajaya yang kemudian melanjutkan pendidikan spesialis bedah syaraf di Universitas Padjadjaran, Bandung. Pada tahun 2012, beliau mendapatkan kesempatan untuk memperdalam ilmu di bidang bedah dasar tengkorak dan tumor otak di Universitas Keio Tokyo-Jepang dan tahun 2014  mendapatkan beasiswa memperdalam ilmu pembedahan mikro penyakit pembuluh darah otak di Universitas Helsinki, Finlandia.


Lantas bagaimana perjalanan kariernya? Dr Mardjono Tjahjadi, SpBS, berbagi kepada redaksi Tabloid Frontroll beberapa waktu lalu.


FR:  Jika melihat statistik pasien bedah syaraf ini meningkat atau menurun?

Mardjono : Meningkat.  Ada 3 alasan : Yang pertama adalah semakin meningkatnya usia harapan hidup orang Indonesia, sehingga akan semakin tinggi resiko  penyakit yang didapat pada orang lanjut usia. Contoh yang paling umum adalah stroke atau penyakit – penyakit yang berhubungan dengan tulang punggung, seperti penuaan tulang dan syaraf terjepit. Kedua penyakit bedah syaraf ini semakin meningkat jumlahnya. Yang kedua adalah semakin meningkatnya tingkat pendidikan dan kesadaran masyarakat untuk hidup sehat. Dengan masyarakat yang semakin cerdas, maka akan membuat banyak orang berkonsultasi dengan dokter bila mereka memiliki keluhan. Yang terakhir adalah semakin canggihnya alat – alat diagnostik kita, seperti CT Scan, MRI Scan, PET Scan, dan lain sebagainya. Alat – alat yang canggih tersebut sangat membantu dokter dalam menemukan penyakit yang mungkin beberapa tahun yang lampau sangat sulit didiagnosis.

Contoh lain kasus bedah syaraf yang semakin meningkat di Indonesia adalah aneurisma otak. Aneurisma itu sendiri adalah balon pembuluh darah, jadi pembuluh darahnya lemah karena beberapa faktor risiko, seperti tekanan darah yang menyebabkan dia menggelembung seperti balon dan lama-lama bisa pecah, sehingga menimbulkan stroke perdarahan. Mengapa bisa ada peningkatan kasus aneurisma ? Ya karena dengan bertambahnya usia harapan hidup, maka kejadian aneurisma otak juga semakin meningkat;  lalu masyarakat juga semakin cerdas, sehingga bila mereka memiliki gejala maka akan langsung berobat ke dokter sebelum menjadi fatal; dan sekarang teknik radiologi kita sudah maju untuk membantu menegakan diagnosis aneurisma.

Contoh lainnya lagi, penyakit parkinson. Kalau beberapa dekade lalu usia harapan hidup orang indonesia hanya 60 tahun, maka tidak banyak kita temukan pasien yang mengidap parkinson karena sudah keburu meninggal sebelum diagnosis parkinson ditegakkan. Namun saat ini seiring bertambahnya harapan hidup maka pasti akan lebih banyak penderita parkinson yang kita temukan dan bisa kita tangani.

FR : Apakah penyakit bedah syaraf ini ada hubungannya dengan gaya hidup orang indonesia?

Mardjono : Jelas ada, yang paling sederhana contohnya adalah stroke. Stroke itu bisa terjadi karena adanya faktor resiko yang dimiliki seseorang dalam jangka waktu lama. Faktor resiko yang paling utama itu tekanan darah tinggi, penyakit gula, penyakit pelemakkan dalam darah, kemudian merokok, dan konsumsi alkohol melebihi jumlah takaran tertentu. Nah, adanya paparan faktor-faktor tersebut akan membuat dinding pembuluh darah menjadi lemah atau bisa menimbulkan penyumbatan pada saluran pembuluh darah itu sendiri. Dan jelas itu adalah bagian dari gaya hidup, makan-makan yang kurang sehat, tidak bisa mengontrol kadar gula darah dan kurang olahraga. Bahkan sekarang banyak kalangan usia muda dibawah 40 tahun yang menderita stroke akibat gaya hidup yang tidak sehat.

FR: Apakah beberapa kasus penyakit-penyakit ini menyerang usia muda?

Mardjono : Iya, saya beberapa kali mengoperasi pasien stroke pendarahan dibawah usia 40 tahun, bahkan sebagian masih berusia 20-an. Memang pada perdarahan otak di usia muda, kita perlu mewaspadai penyebab lain, seperti gangguan genetik dinding pembuluh darah dan varises pembuluh darah otak, tapi pada beberapa kasus tersebut tidak kita temui adanya penyakit – penyakit bawaan tersebut, jadi pecahnya pembuluh darah otak tersebut adalah karena tekanan darah tinggi yang tentu saja sangat dipengaruhi oleh faktor gaya hidup.

FR : Tentang tumor otak, apakah ada gejala awalnya?
Mardjono : Secara umum gejala tumor otak dapat kita kategorikan menjadi gejala umum dan gejala spesifik. Gejala umum yang paling banyak adalah sakit kepala. Sakit kepala ini sifatnya menahun dan  progresif, semakin lama semakin berat. Sakit kepalanya khas biasanya terjadi setelah bangun tidur atau pagi hari setelah tidur malam. Gejala umum lainnya, seperti muntah-muntah, gangguan penglihatan, atau kejang. Gejala spesifik terjadi tergantung pada lokasi tumor otaknya. Contohnya tumor otak ada di lokasi yang memberikan fungsi gerakan tangan kiri, maka tiba-tiba tangan kirinya semakin lama semakin lemah. Atau tumor otaknya ada di pusat bicara, biasanya orang terdekat akan menyadari jika orang tersebut akan sulit diajak berbicara atau bicaranya sudah tidak nyambung lagi.
FR:  Secara umum, bagaimana pandangan Anda pribadi mengenai perkembangan bedah syaraf di indonesia?
Mardjono : We are developing. Secara umum semakin tahun semakin membaik, memang salah satu  masalahnya ada pada kurangnya ahli bedah syaraf dibandingkan populasi yang ada. Namun rasanya kedepannya pemerintah kita akan terus berupaya memenuhi kebutuhan ahli bedah syaraf di Indonesia. Dari segi lainnya seperti teknologi bedah syaraf,  dalam tahun-tahun belakangan terjadi peningkatan yang signifikan dalam ketersediaan teknologi canggih bedah sayaraf di Indonesia. Contohnya adalah  mikroskop atau alat operasi yang paling canggih di luar negeri sudah ada di indonesia. Jadi rasanya dari segi kualitas SDM dan teknologi kita tidak kalah dengan dengan negara maju.
FR : Dengan begitu, alasan klise yang sering kita dengar dari pasien lebih memilih berobat keluar negeri karena teknologi yang lebih canggih mestinya sudah usang?
Mardjono : Menurut saya untuk sebagian besar kasus bedah syaraf rasanya masyarakat tidak perlu lagi berobat ke luar negeri. Semestinya, teknologi sudah bukan menjadi alasan lagi bagi pasien untuk memilih berobat ke luar negeri, karena apa yang dimiliki mereka di negara maju juga sudah bisa kita temui di Indonesia Contohnya, mikroskop operasi yang paling canggih, mesin kateterisasi otak yang modern, alat-alat operasi paling baru, dan lain sebagainya  

FR : Lantas bagaimana dengan kualitas SDM-nya, apakah sudah setara dengan luar negeri?

Mardjono : Secara individual mungkin iya. Namun mungkin yang perlu kita benahi adalah kerjasama tim-nya. Hal itu yang harus dibangun oleh kita, bukan hanya antara dokter ahli bedah syaraf saja tetapi juga anatara semua komunitas dokter, paramedis , dan penunjang medis secara umum. Saya rasa kurangnya komunikasi baik antara para praktisi kesehatan ataupun antara praktisi kesehatan dengan pasien menjadi salah satu penyebab kenapa pasien-pasien Indonesia masih lebih cenderung mempercayai dokter luar negeri, seperti di Malaysia atau Singapura. Nah itu yang harus dievaluasi untuk perbaikan kita. Sekali lagi berdasarkan pengalaman saya mengunjungi dan belajar di banyak pusat bedah syaraf terkemuka di dunia, maka bisa saya katakan bahwa kualitas SDM kita seharusnya tidak kalah dari orang–orang luar negeri.  
Mungkin juga penyebab lain adalah sifat orang Indonesia yang luar negeri minded, jika memang itu masalahnya maka bersama-sama kita harus mencari akar masalah dan pemecahannya.

FR :  Apakah success rate ada hubungannya dengan alasan pasien lebih memilih berobat ke luar negeri?

Mardjono : Mungkin dari pendapat kalangan awam seperti itu. Mungkin benar atau mungkin juga tidak. Bagi saya yang terpenting adalah kita harus tetap berupaya profesional dan mengedepankan kesehatan pasien. Apabila kita terus rajin membaca dan yang kita gunakan adalah ilmu dan teori kedokteran terbaru maka tentu success rate kita juga akan meningkat. Ilmu kedokteran berubah sangat cepat, sehingga dokter harus terus meng-update ilmu demi professionalitas-nya.

FR : Menurut Anda seberapa besar peran pemerintah di dunia kedokteran?

Mardjono:  Belum optimal. Ada 2 hal yang saat ini menjadi perhatian saya tentang bagaimana seharusnya peran pemerintah harus ditingkatkan. Yang pertama adalah harus ada kebijakan – kebijakan yang memikirkan kehidupan dan kesejahteraan para praktisi kesehatan/kedokteran. Anda bayangkan bagaimana seorang praktisi kesehatan bisa bekerja dengan optimal, bila mereka juga masih harus terus menerus dipusingkan dengan biaya sekolah anak mereka, biaya makan keluarganya, biaya kontrak rumah, dan lain sebagainya. Saya rasa untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan secara umum di Indonesia, pemerintah harus berperan lebih aktif dalam memperhatikan kesejahteraan para petugas kesehatan dan kedokteran. Saya percaya dengan hati dan pikiran yang tenang, otak, waktu dan perhatian kita bisa tercurahkan secara optial untuk merawat dan mengobati pasien. Yang kedua adalah harus ada mekanisme yang mengatur agar alat – alat kesehatan tidak mahal harganya, mungkin seperti kebijakan bebas pajak atau mendapatkan subsidi pemerintah.   Masyarakat kita masih banyak sekali yang belum sanggup untuk membiayai alat – alat kesehatan yang mahal tersebut, konsekuensinya adalah pelayanan kesehatan menjadi suboptimal karena ketiadaan alat – alat tersebut.

BERITA LAINNYA
  • Skytrain Solusi Macet Bandara Soetta

    MEGAPOLITAN | 26 September 2017 17:03 WIBKini para pelancong akan kian dimudahkan dengan keberadaan Skytrain yang menghubungkan ketiga terminal di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Layanan transportasi skytrain pertama di Indonesia
  • Lawan Dortmund, Toni Kroos Masuk Skuad Inti Real Madrid

    OLAHRAGA | 26 September 2017 16:54 WIBGelanda asal Jerman, Toni Kroos telah kembali masuk skuad inti Real Madrid setelah sembuh dari cedera rusuk. Kross mengalami cedera saat timnya menang melawan Alaves dengan skor 2-1 dan saat ini
  • Kisah Anak Tukang Las yang Sekolah di China

    SOSOK / TOKOH | 26 September 2017 16:10 WIBRama Aldi Sanjaya merupakan seorang mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya yang mengikuti program student mobility di Nantong Vocational University. Rama menceritakan seputar ayahnya