Kalah di Banten dan DKI, Picu Kabar Mega Mundur dari PDIP | FRONTROLL.COM
FRONTROLL.COM
Sabtu | 29 April 2017 11:41:31 WIB

FEATURE

Kalah di Banten dan DKI, Picu Kabar Mega Mundur dari PDIP

Redaksi - FRONTROLL.COM
Kalah di Banten dan DKI, Picu Kabar Mega Mundur dari PDIP
FRONTROLL.COM,- Adapun kabar Megawati ingin istirahat dari dunia politik kembali mencuat setelah kekalahan pasangan incumbent, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat di Pilkada DKI Jakarta serta calon lain yang diusung oleh PDI-Perjuangan.

Namun, kekalahan pasangan calon kepala daerah itu bukanlah jadi yang utama Mega ingin mundur. Kekalahan itu hanya menjadi pematik kembali. Sebab, isu ini muncul setelah ada pernyataan dari Mega sendiri dan pesan dari (Alm) Taufik Kemas yang tak lain adalah sang suami.

Di internal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ada isu yang dianggap 'terlarang' atau tabu untuk dibicarakan. Segarang dan sesenior apapun seorang kader PDIP, berat buka mulut bila ditanya urusan yang satu ini. Siapa calon Ketua Umum PDIP pengganti Megawati Soekarnoputri?

Isu pergantian tampuk kepemimpinan di partai banteng awalnya datang dari Megawati. Putri kedua Bung Karno mengaku sudah ingin pensiun memimpin partai banteng sejak tahun lalu. Hal itu Mega sampaikan saat menghadiri perayaan Hari Ulang Tahun Banteng Muda Indonesia (BMI) di Jalan Cianjur, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (30/3/2017).

"Dari tahun lalu, sebenarnya saya ingin pensiun. Tidak mudah jadi ketua umum apalagi seorang wanita jadi ketua partai di republik ini," kata Megawati.

Namun demikian, Megawati mengaku harus tetap mengemban tugas sebagai ketua umum. Sebab, dia terpilih menjadi ketua umum PDIP atas aspirasi seluruh kader di akar rumput.

"Biasa kayak orang masuk nominasi ketua umum orang mengatakan masa Bu Mega terus. Tapi saya bilang untuk main duit saya ndak punya uang. Suara datang betul dari rakyat," tutupnya.

Dalam Kongres IV di Bali, Megawati didaulat kembali memimpin PDIP untuk periode 2015-2020. Secara aklamasi, Megawati kembali menjadi ketua umum untuk periode keempat.

"Soal ketum berikutnya itu ibarat nunggu wangsit dari langit. Kita kader enggak berani ngomong macam-macam," ujar kader PDIP yang enggan disebutkan namanya dalam perbincangan dengan disebutkan namanya.

Tetapi waktu terus berjalan. Politik kian dinamis, tantangannya terus berubah. Cepat atau lambat, Megawati harus meninggalkan kursi Ketum PDIP. Pertanyaannya, siapakah yang akan menjadi nahkoda PDIP sepergian Megawati?

Ada tiga kemungkinan jawabannya

Pertama, Puan Maharani yang maju ke depan. Pasti Megawati sudah menyiapkannya. Dari trah Sukarno, kita sudah sama-sama maklum pada Puan Maharani. Tetapi tidak tertutup kemungkinan calon lainnya, yaitu Prananda Prabowo yang santer dekat dengan Presiden Jokowi. Faksi-faksi di internal PDIP memang terkesan lebih nyaman jika PDIP kembali dipimpin trah Soekarno.

Secara usia, Prananda memang di atas Puan. Tetapi secara karir politik, putra kedua Megawati ini tertinggal jauh dari adik tirinya itu. Prananda cenderung sosok di belakang layar. Dia lebih berperan sebagai penjaga idelogi Sukarno di internal DPP PDIP. Sebaliknya, karir politik Puan melambung tinggi, baik di internal maupun eksteral PDIP. Kecuali menjabat Ketua Bidang DPP PDIP, Puan juga ketua fraksi PDIP di DPR. Pada Pileg 2014, Puan menjabat Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDIP. Isunya, jika PDIP bisa meraup hingga 20 % suara pada Pileg 2014, Puan akan diusung sebagai wapres pendamping Jokowi.

Dari sini, kuat dugaan Megawati memang mempersiapkan Puan untuk menjadi nahkoda PDI-P kelak. Untuk itu kepiawaian politik Puan terus digembleng. Dalam Kabinet Kerja saat ini, Puan didampuk sebagai Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia –jabatan yang lebih tinggi dari menteri-menteri kebanyakan.

Kedua, Jokowi yang menjadi Ketum PDIP. Hasrat Puan dapat tergaduh jika Jokowi memutuskan untuk turut berkompetisi. Dengan status Presiden, Jokowi terang sosok pertama yang akan dilirik kader-kader PDIP, sekiranya Megawati undur diri dunia politik. Sebaliknya, Jokowi berkepentingan memastikan dukungan politik PDIP atas manuver politik yang hendak dilakukannya. Dalam hal ini, Puan bukanlah sosok yang tepat.

Sudah rahasia umum, hubungan Puan dan Jokowi kurang harmonis. Ada ketidaksukaan Puan terhadap Jokowi yang berdarah ndeso itu. Kita tentu ingat desas-desus Puan mendamprat Jokowi sewaktu Pileg 2014? Bagi Puan, memberi hati Jokowi ibarat membesarkan anak harimau. Memang, kendati bukan trah Sukarno, Jokowi memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap Megawati.

Sewaktu menjabat Gubernur DKI Jakarta, Jokowi sudah mampu “memaksa” Megawati untuk memberikan tiket capres kepadanya. Dominasi Jokowi di PDIP juga kian meluas paska terpilih sebagai Presiden. Dalam Munas PDIP contohnya, muncul suara-suara untuk mendapuk Jokowi sebagai Ketum PDIP. Dalam kasus Pilkada DKI Jakarta, Jokowi piawai melobi Megawati sebagai Basuki Tjahaya Purnama bisa gol menjadi cagub yang diusung PDIP.

Semua ini adalah sinyal kuat. Kehadiran Jokowi berpotensi meruntuhkan trah Sukarno di PDIP, bahkan mengambil-alih PDIP. Jika kompetisi menuju ketum PDIP paska Megawati dilakukan secara fear, kuat dugaan Jokowi akan mempercundangi Puan.
BERITA LAINNYA
  • Google Gandeng Xiaomi Hadirkan Android One

    TEKNOLOGI | 23 Agustus 2017 09:09 WIBGoogle memperkenalkan perangkat Android One pada tahun 2014, sejumlah ponsel yang ditargetkan di pasar negara berkembang ini memang sengaja diproduksi untuk menghadirkan pengalaman Android serta
  • Buah Kiwi Bisa Dimakan Bersama Kulitnya Untuk Kesehatan

    GAYA HIDUP | 23 Agustus 2017 08:52 WIBPresenter ABC Radio Adelaide di Australia, Ali Clarke, membuat rekan kerjanya keheranan saat dia memakan buah kiwi dengan kulitnya yang belum dikupas. Selama ini, orang biasanya memakan isi buah kiwi
close