FRONTROLL.COM
Senin | 04 September 2017 00:00:00 WIB

Feature

Duka Rohingya, Duka Umat Manusia

Redaksi - frontroll.co.id
Duka Rohingya, Duka Umat Manusia
frontroll.co.id,-

Tragedi kemanusiaan terus berlangsung di Negara Bagian Rakhine, Myanmar. Pembantaian terhadap warga muslim Rohingya belum juga dihentikan pihak militer negeri itu. Pembantain ini dicatat sejarah dunia sebagai bentuk kejahatan manusia terhadap manusai lain.

Dalam kekerasan struktural yang terjadi di Arakan di Myanmar Barat Laut yang dilakukan oleh militer dan polisi Myanmar pada Oktober dan November 2016 telah menewaskan 428 orang Rohingya, menangkap 440 orang, menghilangkan 120 orang, membakar dan merusak 1.780 rumah dan bangunan, dan melahirkan 35.000 pengungsi internal (IDPs) dari etnis minoritas Rohingya


Tragedi kemanusiaan yang lagi-lagi menelan nyawa warga Rohingya bermula saat militer melakukan operasi pembersihan di Rakhine (Sabtu, 12/11/2016). Aksi militer itulah yang berakhir menjadi bentrokan. Pihak militer Myanmar menuding kaum Rohingya  yang menyerang terlebih dulu. Meski demikian, aktivis HAM seluruh dunia mengecamnya sebagai “tindakan cuci tangan” saja.

Kaum Rohingya jelas kalah dari segala sisi menghadapi pembersihan tersebut. Lawannya adalah pemerintah Myanmar lengkap dengan aparat militer yang terlatih dan dengan persenjataan yang jauh lebih canggih, jauh lebih lengkap. Kapan pun militer Myanmar memutuskan menggebuk, Rohingya hampir pasti akan kehilangan warganya. Mau berapa banyak yang hilang, semua terserah militer Myanmar.

Politik dan Penjajahan Cikal Bakal Tragedi

"Rohingya” mendefinisikan kelompok Islam Sunni yang menetap di utara negara bagian Rakhine, Myanmar. Enam dekade terakhir, kelompok etnis minoritas ini larut dalam konflik dan persekusi yang berakar jauh sebelum Myanmar menjadi sebuah negara merdeka.

Sejarah terkait etnis Rohingya pun sesimpang siur penyebab konflik itu sendiri, sebuah catatan yang dituliskan seorang dokter bernama Francis Buchanan merujuk jauh ke abad 17 mendokumentasikan etnis ini sebagai “Rovingaw” atau “Mohammedans” – orang-orang berkulit gelap dan tubuh kokoh yang menjadi pengikut Muhammad –  yang telah mendiami kerajaan Arakan (sekarang menjadi negara bagian Rakhine) sejak abad kesembilan.

Di abad ke 18, kekaisaran Inggris yang menjajah selatan Asia dan juga daerah-daerah yang kini menjadi bagian Myanmar kemudian mendukung migrasi besar-besaran “Rovingaw” ke Rakhine, menasbihkan ekslusivitas kepada “Rovingaw” sebagai para pekerja lahan disaat beras menjadi komoditas bernilai tinggi, hal ini menimbulkan rasa iri dan ketidak adilan bagi para penduduk asli Rakhine yang merasa terpinggirkan di tanah mereka sendiri.

Layaknya kisah tentang konflik kemanusiaan lainnya yang pernah menumpahkan darah di planet ini, politik dan penjajahan menjadi cikal bakal perpecahan yang diturunkan dari generasi ke generasi.

Singkat cerita, kemerdekaan Myanmar menjadi awal mimpi buruk para etnis Rohingya, terlepas bahwa mereka telah hidup dan mati di tanah itu sejak ratusan tahun yang lalu, pemerintah tidak mengakui mereka sebagai etnis lokal. Sejak keputusan Jenderal Ne Wing pada 1982 silam, yang mendiskriminasi warga Rohingya melalui segregasi kategori warga negara, mereka harus kenyang menelan persekusi. Orang-orang Rohingya makin tertekan dengan aksi yang disebut para aktivis hak asasi manusia sebagai “pembersihan etnis” oleh pemerintah Myanmar itu.

Tragedi di Negara Tetangga jangan Sebar Kebencian di Negeri Sendiri

Tragedi di negara tetangga ini memang membuat emosi. Bahwa umat Muslim Indonesia prihatin dan marah karena saudara sesama Muslim-nya ditindas di Myanmar,  adalah hal yang wajar. Solidaritas sesama Muslim memang salah satu ajaran Islam.

Namun sangat disayangkan adalah ketika upaya membangkitkan solidaritas itu disalah artikan oleh sebagian kalangan sebagai bentuk mendukung gerakan radikalisme.

Saat ini suara suara sumbang yang bernada kebencian akan aksi solidaritas terdengar dimana-mana, paling nyaring di laman media sosial. Hal ini mengkhawatirkan menjadi bibit perpecahan. Padahal tragedi kemanusian yang bikin banyak orang marah ini terjadi di negeri tetangga. Jangan sampai hanya karena merasa egoisme pribadi dan golongan menyebabkan tindak kekerasan terjadi di Indonesia. Karena dampaknya sangat luar biasa.

Dari cerita relawan yang telah keluar masuk Rakhine, Myanmar, dampak konflik ini membuat miris, sedih dan marah. Diujung ceritanya terselip satu pesan yang terus tertanam, yakni "Jangan sampai konflik serupa atau perang saudara terjadi di Indonesia".

Tidak bisa dibayangkan orang tua, perempuan dan anak-anak di lingkungan kita menjadi korban, akibat kebencian yang selalu dikobarkan oleh segelintir manusia yang merasa hebat. (berbagai sumber)

BERITA LAINNYA