Ini Alasan Kenapa Bisnis Kuliner Laris Manis di Malang | FRONTROLL.COM
FRONTROLL.COM
Rabu | 13 September 2017 | 17:03 WIB

GAYA HIDUP

Ini Alasan Kenapa Bisnis Kuliner Laris Manis di Malang

Redaksi - FRONTROLL.COM
 Ini Alasan Kenapa Bisnis Kuliner Laris Manis di Malang
FRONTROLL.COM,- Bak gadis cantik, pariwisata di kota Malang saat ini tengah diminati wisatawan. Mengiringi pertumbuhan pariwisata tersebut, perkembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di kota Malang pun turut meningkat. Berdasar data statistik, jumlah UMKM di kota Malang mencapai angka lebih dari 70 ribu, meskipun 90 persen dari angka tersebut masih bergerak di usaha mikro.

Berbagai bidang usaha digeluti, mulai dari teknologi, industri kreatif, kuliner, dan lainnya. Kendati demikian, salah satu bidang usaha yang cukup dilirik di kota Malang adalah kuliner. Secara kasat mata, minat pada bisnis ini terlihat pada menjamurnya berbagai jenis kedai, kafe, rumah makan, dan spot kuliner lainnya di kota Malang. Bahkan, mereka berlomba-lomba menyuguhkan konsep unik untuk menarik perhatian konsumen.

Lalu, apakah yang menyebabkan bisnis kuliner begitu diminati di kota Malang?

Menanggapi pertanyaan itu, Sigit Pramono, Dosen Kewirausahaan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya mengaku cukup sering mendiskusikan hal tersebut bersama mahasiswanya. Sigit menjelaskan, setidaknya ada tiga alasan utama yang menyebabkan bisnis kuliner menjamur di kota Malang.

Pertama, bisnis kuliner merupakan salah satu jenis bisnis yang mudah diamati, ditiru, dan dimodifikasi. Mengingat, Amati Tiru, dan Modifikasi (ATM) merupakan salah satu metode bisnis yang cukup populer.

"Ada sebuah teori yang mengatakan bahwa bisnis itu ATM; Amati, Tiru, Modifikasi. Bisnis kuliner itu memang mudah sekali untuk di ATM," ujar Sigit, usai menggelar acara Creatonomics Bisnis Competition, Jumat (19/5) lalu.

Kedua, peluang pasar bisnis kuliner ini terbilang tersegmentasi. Ini berkaitan dengan ide yang tak terbatas pada bidang kuliner. Saat ini, imbuh sigit, segmentasi pasar itu semakin mengerucut pada apa yang dibutuhkan oleh orang.

"Ada yang jualan makanan pedas. Padahal itu segmented sekali. Tapi, justru segmented-segmented itu yang justu diisi orang yang sangat besar. Sehingga peluang pasar masih bisa dibagi-bagi oleh pelaku usaha. Sehingga mereka memilih untuk bisnis kuliner," singkatnya.

Ketiga, kota Malang memiliki konsumen yang diperbaharui. Kata Sigit, Malang memiliki tipe konsumen yang serupa dengan Yogyakarta, dan Bandung. Setiap tahun, kota Malang kedatangan sekira 200 ribu pendatang yang sebagian besar merupakan mahasiswa. Menariknya, para pendatang ini datang dengan uang yang perputaran uangnya tidak berasal di kota Malang. Pasalnya, sebagian besar dari mereka hidup di kota Malang dengan biaya kiriman dari orang tua yang tinggal di luar kota.

"Artinya, misalkan pendatang dari Jakarta, uang yang dia bawa tidak berputar di Malang, karena mendapat kiriman dari orang tua. Sehingga di sini (Malang), mendapat perputaran uang yang tidak dicetak oleh perputaran uang di Malang sendiri," terangnya.

Hal ini, terlihat jelas saat liburan panjang tiba. Beberapa bisnis kuliner tampak lesu lantaran sebagian besar konsumennya tidak berada di kota Malang.

"Bisa dilihat, setelah liburan semester atau liburan lebaran, beberapa usaha itu mengalami penurunan omset, karena sebagian besar pasarnya pergi," tandasnya.
BERITA LAINNYA
  • Skytrain Solusi Macet Bandara Soetta

    MEGAPOLITAN | 26 September 2017 17:03 WIBKini para pelancong akan kian dimudahkan dengan keberadaan Skytrain yang menghubungkan ketiga terminal di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Layanan transportasi skytrain pertama di Indonesia
  • Lawan Dortmund, Toni Kroos Masuk Skuad Inti Real Madrid

    OLAHRAGA | 26 September 2017 16:54 WIBGelanda asal Jerman, Toni Kroos telah kembali masuk skuad inti Real Madrid setelah sembuh dari cedera rusuk. Kross mengalami cedera saat timnya menang melawan Alaves dengan skor 2-1 dan saat ini
  • Kisah Anak Tukang Las yang Sekolah di China

    SOSOK / TOKOH | 26 September 2017 16:10 WIBRama Aldi Sanjaya merupakan seorang mahasiswa Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya yang mengikuti program student mobility di Nantong Vocational University. Rama menceritakan seputar ayahnya