FRONTROLL.COM
Rabu | 11 Oktober 2017 10:04:10 WIB

Nasional

Mochtar Riady: Perubahan di Era Digital Tidak Terelakkan

Wenny KT - frontroll.co.id
Mochtar Riady: Perubahan di Era Digital Tidak Terelakkan
frontroll.co.id,- Bogor - Pendiri Lippo Group Mochtar Riady berpendapat, perubahan sosial yang terjadi di era digital saat ini tidak terelakkan. Menghadapi perubahan tersebut, perusahaan pun harus sensitif untuk menyesuaikan dengan perkembangan teknologi. Jika tidak sensitif terhadap perubahan sosial yang tengah menuju ke era digital, perusahaan harus siap mengalami kehancuran.

Mochtar memberikan contoh, perusahaan taksi Blue Bird yang memiliki 43.000 sopir taksi yang secara perlahan bisnisnya mulai tergerus oleh kehadiran taksi online. Ketika dirinya menjabat sebagai Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (MWA UI), salah satu anggotanya adalah pemilik perusahaan Blue Bird yang dikaguminya.

Dia mengaku merasa kagum dengan Blue Bird karena dapat mengelola dan mengatur ribuan pengemudinya, serta para pengemudi seluruhnya tenang dan disiplin. Padahal, dirinya mengatur satu orang sopir saja mengalami kesulitan.

Namun, dalam waktu tidak lama setelah itu, kejayaan taksi konvensional, seperti Blue Bird, mendadak mulai surut lantaran kehadiran teknologi.

"Maka, kita semua harus belajar dari Blue Bird. Adanya Uber, Grab, dan Gojek bisa menghancurkan bisnis Blue Bird. Makanya, kalau tidak sensitif adanya perubahan teknologi bisa mengalami kehancuran," kata Mochtar di BCA Learning Institute, Sentul, Bogor, Jawa Barat, Selasa (10/10).

Padahal awalnya, Mochtar sempat berpikir bahwa bisnis transportasi taksi sulit untuk dikalahkan. Namun, kini, kehadiran beragam sarana transportasi berbasis online, atau taksi online begitu cepat membesar skala bisnisnya dan taksi konvensional pun mulai tergeser.

Dia pun mengingatkan, perusahaan di Indonesia harus dapat mengikuti perubahan yang terjadi saat ini. Dalam pepatah Tiongkok, dia menyebutkan, tidak ada kekayaan yang bisa bertahan lebih dari tiga generasi. Sebagai contoh apa yang terjadi pada perusahaan mobil terbesar di Jepang, yaitu Nissan yang telah diambil alih (take over) oleh perusahaan dari Prancis.

Beberapa bulan yang lalu, lanjut Mochtar, perusahaan raksasa elektronik di Jepang, antara lain Sharp dan Toshiba juga di-take over oleh perusahaan dari Tiongkok. Hal tersebut terjadi karena perusahaan tidak sensitif terhadap perubahan teknologi, sehingga mengalami kemunduran bisnis.

Tidak hanya perusahaan, negara juga akan mengalami kesulitan jika tidak sensitif terhadap perubahan. Hal itu telah terjadi pada negara-negara di kawasan Eropa Selatan dan Amerika Selatan. Mereka pernah mencapai kejayaan, dan saat ini rontok karena mengalami kemandekan pada pendapatan menengah (middle-income trap). Pendapatan setiap orang telah mencapai US$ 5.000. Nilainya tersebut sebenarnya sudah tinggi, namun, negara tidak bisa mempertahankannya karena tidak sensitif terhadap perubahan.

“Beberapa negara yang ada di Eropa Selatan, negara yang ada di Amerika Selatan, mereka mengalami hal yang sama. Karena, mereka tidak sensitif terhadap perubahan teknologi, tidak sensitif terhadap perubahan politik, perubahan ekonomi, maka negaranya akan mengalami nasib yang demikian,” ujarnya.

Dia pun mengajak masyarakat Indonesia untuk memperhatikan kemajuan teknologi. Sebab, jika tanpa memperhatikan kemajuan teknologi, tidak akan ada harapan bagi bangsa Indonesia untuk berkembang dan terus maju.

Selain itu, Mochtar juga memandang ada peluang dari perkembangan era digital untuk menjadi solusi mengatasi persoalan kemiskinan. Selama berabad-abad, kemiskinan selalu dibicarakan, tetapi tidak punya solusi yang jelas.

Dia pmemberi contoh, sejak lama, petani di Tanah Air hanya menikmati sebagian kecil dari harga jual dari hasil pertanian. Sementara itu, sebagian besar hasil harga jual justru dinikmati oleh pedagang yang berhubungan langsung dengan pasar.

"Saya baru sadar, di sini beli air harga Rp 2.000, di Papua sana sudah Rp 20.000, ini yang membuat kemiskinan. Sekarang, saya mengerti, kenapa Kementerian Perdagangan keberatan akan hadirnya Indomaret dan Alfamart, karena tujuannya melindungi pengusaha kecil," jelasnya.

[ Investor Daily ]
BERITA LAINNYA