Connect with us
займ на карту онлайн кредит онлайн

Sepakbola

Pahit manis drama di Paris

20190306-reuters-mbappe-rashford-01

Jakarta – Stadion Parc des Prince di barat kota Paris pernah menjadi saksi kejayaan Tim Ayam Jantan mengangkat trofi Piala Eropa pertama mereka pada tahun 1984 silam.

Publik tuan rumah bersorak sorai, larut dalam kemenangan 2-0 Prancis atas Spanyol berkat gol Michel Platini dan Bruno Bellone pada malam indah 27 Juni 1984.

Hampir 35 tahun berselang, Parc des Princes malah menjadi panggung nasib tragis Paris Saint-Germain (PSG). Jika ditemukan cara untuk menghapus ingatan, publik tuan rumah pasti akan memilih malam 6 Maret 2019 sebagai salah satu yang akan dihapus.

Di tanah Prancis, PSG adalah tim tersukses dalam satu dekade terakhir. Namun kesuksesan itu selalu gagal diterjemahkan ke panggung Liga Champions.

Baca juga: PSG tersisih, Thiago Silva memohon maaf kepada fans

Modal kemenangan 2-0 atas Manchester United di Old Trafford tiga pekan sebelumnya, pupus begitu saja oleh dua blunder lini belakang yang dipungkasi dengan penalti pada masainjury time.

Rasa pahit mungkin tak mengenal takaran, tapi kalah 1-3 di Parc des Princes sudah pasti jauh lebih getir dibandingkan kalah 1-6 ketika bertandang ke Nou Camp dua tahun lalu. Kapten PSG Thiago Silva (kiri) berbincang dengan kiper Gianluigi Buffon jelang babak kedua dimulai, mereka tengah tertinggal 1-2 dari United. (ANTARA/REUTERS/John Sibley)   Sayap PSG, Angel Di Maria, melakukan selebrasi atas golnya ke gawang Manchester United sebelum sadar wasit menganulirnya karena offside.(ANTARA/REUTERS/Christian Hartmann) Ekspresi penuh kecewa Mbappe selepas peluit tanda laga usai. (ANTARA/REUTERS/Christian Hartmann)

United tiba di Parc des Princes sebagai tim yang tak diunggulkan karena kekalahan 0-2 di laga pertama.

Akan tetapi, pelatih interim Ole Gunnar Solskjaer seolah menitiskan kemampuannya mencetak gol pada masa injury time kepada para pemain yang ditanganinya kini.

23 tahun silam, Solskjaer melakukannya di Nou Camp untuk membawa United juara Liga Champions. Kini, ketenangan itu diwariskan kepada Marcus Rashford.

Pemuda 21 tahun itu dengan kepala dingin menghadapi bola di titik putih saat pertandingan memasuki masa injury time. Ia berhadapan dengan sosok legenda hidup sepak bola, Gianluigi Buffon, namun Rashford tak gentar.

Dengan sebuah sepakan, banyak hal ditunaikan Rashford, namun yang terpenting adalah menorehkan kisah manis bagi United di Paris.

Baca juga: Inilah cara Manchester United, sabda Solskjaer
Baca juga: Penalti Rashford antar United tumbangkan PSG dan lolos perempat final
Baca juga: Rashford sebut kepala dingin adalah kunci
Baca juga: Solskjaer: Rashford tak kenal rasa takut Adegan tendangan penalti Rashford untuk United di masa injury time. (ANTARA/REUTERS/Benoit Tessier)   Adegan selebrasi Lukaku (atas) dan ekspresi kecewa para pemain PSG setelah peluit tanda laga usai berbunyi. (ANTARA/REUTERS/Benoit Tessier)   Pelatih interim United, Ole Gunnar Solskjaer, merayakan kemenangan 3-1 atas PSG yang mengantarkan mereka lolos ke perempat final.(ANTARA/REUTERS/John Sibley)

Pewarta: Gilang Galiartha
Editor: Dadan Ramdani
COPYRIGHT © ANTARA 2019
Artikel Asli

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

More in Sepakbola